karya teman-Q.. 0

Muhamad Haidir Ali | 15.19 |


Tema : Pertanian sebagai tulang punggung Ekonomi Indonesia, masihkah ?
Judul : Indonesia Sebagai Negara Agraris
Nama : Fadhlan Agung Abdillah
Sekolah : SMA Negeri 1 Sumber

Indonesia Sebagai Negara Agraris

Masih teringat diotakku tentang mata pelajaran “Geografi” yang menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling kaya akan sumber daya alamnya yang melimpah. Sebagai contoh adalah kekayaan alam dari hasil pertanian. Dulu Indonesia bila dilihat dari pesawat terbang ataupun satelit, yang terlihat dari Indonesia adalah hamparan sawah yang sangat luas, selain itu banyak lahan-lahan hijau masih banyak ditemukan di Indonesia, apabila sedang musim panen sawah-sawah itu banyak menghasilkan keuntungan bagi petani yang mengolahnya. Bahkan Indonesia mampu mengekspor beras ke seluruh penjuru dunia. Itu dulu, sekarang lahan untuk menanam padi sudah jarang ditemukan lagi, apalagi di kota-kota besar seperti “Jakarta”. Jangankan mengekspor beras, lahan untuk menanamnya saja tidak ada apalagi menjual beras ke seluruh penjuru dunia. Jadi disini saya akan menjelaskan pendapat saya tentang nasib negara Indonesia sebagai negara agraris.

Indonesia memiliki banyak sekali pulau-pulau yang tidak berpenghuni. Menurut saya, sebaiknya pemerintah Indonesia membuat suatu program untuk mengoptimalkan semua pulau-pulau yang ada di Indonesia. Misalnya program pelatihan para petani yang sulit mendapatkan pekerjaan di kota-kota besar untuk kemudian dikirim ke suatu pulau yang berpotensi menjadi daerah pertanian. Dan untuk semua biaya perawatan pertanian dan kesejahteraan para petani ditanggung oleh pemerintah. Sebagai gantinya pemerintah dapat mengambil keuntungan dari program ini.


Dengan cara, pemerintah membangun suatu sekolah terbuka yang khusus mengajarkan tentang pertanian kepada para petani atau pengangguran atau siapa saja yang mau bekerja untuk pemerintah dalam bidang pertanian. Kemudian setelah mereka sudah siap untuk terjun dalam bidang pertanian, lalu mereka dikirim kesuatu tempat yang telah disediakan lahan pertanian untuk mereka olah.
Program ini mirip dengan program pemerintah yang dulu yaitu transmigrasi. Tapi, sebenarnya program ini berbeda dengan transmigrasi. Pada program ini pemerintah lebih memfokuskan para transmigran untuk bekerja dalam bidang pertanian. Sedangkan transmigrasi, para trensmigrannya dibebaskan untuk mengolah lahan yang disediakan pemerintah.

Pada dasarnya saya berfikir untuk membuat suatu focus area untuk meningkatkan mutu dalam bidang pertanian. Sebagai contoh, saya ambil daerah Sumatra. Saya pilih daerah Sumatra karena disana saya melihat potensi yang bagus untuk dijadikan suatu lahan pertanian, karena di daerah Sumatra masih banyak sekali lahan-lahan kosong yang sangat cocok untuk dijadikan lahan pertanian.
Jadi, lahan yang akan dijadikan suatu focus area untuk pertanian jangan terlalu banyak dilakukan pembangunan. Maka diharapkan daerah tersebut akan menjadi suatu daerah khusus pertanian yang bermutu (maksimal). Atau bisa juga kita ambil satu Kabupaten atau Kota yang khusus menangani masalah pertanian. Seperti di negara-negara maju semua konsep pembangunan telah diatur sedemikian mungkin agar semua potensi yang ada dinegeri tersebut dapat dikembangkan secara maksimal. Dan segala kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam pembangunan daerah pertanian telah disediakan oleh pemerintah.

Semua orang berpikir, bahwa pertanian di Indonesia sudah tidak dapat diandalkan lagi bagi perekonomian bangsa. Beras mahal apa apa mahal. Padahal itu semua hanya kerjaan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang kerjanya hanya bisa menipu orang-orang awam saja.

Saya pikir pertanian Indonesia masih bisa menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Asalkan pemerintah bisa lebih bijak dalam menangani masalah pembangunan nasional. Jangan semua lahan yang ada dijadikan sebagai gedung-gedung bertingkat yang mewah dan berkelas.

Coba kita bandingkan kota-kota besar yang banyak dipenuhi oleh gedung-gedung bertingkat dengan daerah yang masih dipenuhi oleh sawah, ladang dan hutan, mana yang lebih sering terkena banjir. Pasti jawabannya adalah di kota-kota besar. Karena pembangunan di kota-kota besar seperti Jakarta belum terkonsep dengan benar. Lihat saja, banjir dan macet terjadi dimana-mana. Itu karena pembangunan yang asal-asalan. Minimal disuatu kota itu terdapat lahan hijau sekitar ¼ dari luas kota. Agar ada suatu daerah serapan air. Jangan asal taruh bangunan saja, pikirkan kedepannya.
Pembangunan teknologi di Indonesia memang penting apalagi di era globalisasi ini teknologi semakin canggih dan Indonesia dituntut mengikuti perkembangan jaman. Tetapi walaupun demikian kita tidak boleh mengabaikan masalah pembangunan pertanian yang hampir saja terlupakan. Pesatnya perembangan teknologi di dunia semakin memacu Indonesia untuk mengikuti perkembangan jaman. Sekarang teknologi sudah semakin banyak contohnya hand phone (hp), komputer, laptop, dan internet.
Berkembangnya teknologi-teknologi canggih di Indonesia semakin mudah menyihir penduduk Indonesia untuk melupakan masalah pertanian. Sekarang banyak orang yang tidak peduli lagi terhadap lingkungan mereka lebih suka duduk didepan komputer sambil bermain game dan internetan. Dibanding melakukan kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan. Selain membosankan, kegiatan itu juga melelahkan. “Lebih enak bermain game ketimbang membersihkan lingkungan” begitu katanya. Meski masih ada yang mau peduli akan lingkungan itu pun tidak banyak paling hanya satu dua orang yang mau peduli akan itu.

Tapi saya bangga dengan generasi-generasi muda yang mempelopori gerakan tanam 1000 pohon. Gerakan itu saya pikir sangat baik untuk memperbaiki hutan-hutan yang gundul akibat ulah manusia yang tidak berakal. Kalau bisa saya ingin pemerintah membuat undang-undang tentang pertanian bahwa “Setiap kabupaten atau kota harus menyisakan sedikitnya ¼ dari lahan kota sebagai lahan hijau” agar negara Indonesia menjadi negara yang peduli akan lingkungan.

Kesimpulannya Indonesia sebagai negara agraris masih bisa mengoptimalkan segala sumber daya alam yang dimiliki menjadi tulang punggung perekonomian dengan cara program transmigrasi pertanian, menyisihkan sebagian dari luas kota sebagai lahan hijau, dan memperbaiki tatanan atau konsep pembangunan kota.

Oh iya, selain tiga aspek tersebut masih ada lagi yang lebih penting. Yaitu sumber daya manusianya yang berkualitas. Selain mengirim para sukarelawan untuk mengolah lahan pertanian, yang paling penting lagi adalah menyiapkan bibit-bibit insinyur yang bermutu untuk menata atau mengatur lahan tersebut menjadi lahan pertanian yang baik. Sehingga para petani yang dikirim ke daerah tersebut akan bekerja lebih baik lagi dan hasilnya pun lebih memuaskan sehingga harapan pemerintah untuk kembali mengekspor beras ke luar negeri akan kembali tercapai.

Saya harap kedepan Indonesia memiliki suatu daerah khusus pertanian yang akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Seluruh kabupaten atau kota di Indonesia memiliki lahan hijau. Penataan pembangunan Indonesia akan menjadi lebih baik, saya yakin apabila Indonesia mampu mengatur tatanan pembangunan maka semua aspek yang sekarang menjadi masalah akan terselesaikan secepatnya.

Dan semoga dengan tercapainya harapan tersebut tidak ada lagi terdengar ditelinga kita masalah kelaparan, kemiskinan, sembako mahal dll. Dan perekonomian di negara ini semakin maju dan terus maju lagi. Bukan hanya dibidang perekonomian saja dalam bidang apapun semoga Indonesia menjadi negara yang terbaik.

Meskipun sekarang Indonesia belum berhasil mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya tetapi saya tetap bersyukur bahwa kita masih bisa tinggal di tempat yang kaya akan sumber daya yang melimpah. Dan saya yakin potensi Indonesia untuk menjadi negara maju masih ada walaupun hanya 0.1% itu sudah cukup daripada 0%. Dan saya terus berdoa agar Indonesia terus berkembang menjadi negara yang disegani didunia. Amien.

Demikian pendapat saya tentang pertanian sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia. Bahwa Indonesia masih bisa menjadi Negara yang mengutamakan pertanian sebagai tulang punggung ekonominya. Sekian saja terima kasih.


Baca Juga Artikel Terkait



0 Responses So Far:

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...